Halaman Utama arrow Gebyar arrow Nyindir Malaysia ala Tolak Angin
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Nyindir Malaysia ala Tolak Angin
Saturday, 22 December 2007

Nyindir Malaysia ala Tolak Angin

DI saat negeri tetangga yang me­nga­ku sebagai ’bangsa se­rum­pun’ mencubit Indonesia, de­ngan mengakui musik angklung, kesenian reog dan lagu Rasa Sayange sebagai miliknya, justru beberapa orang ka­ya Indonesia bangga bisa pergi ke ’Ke eL’, yang diucapkan dengan lafal Ing­gris, untuk menyebut singkatan Kuala Lumpur

Tetapi di balik itu, rasa emosi yang membuncah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, seakan tak tertahankan lagi. Dengan segala sumpah serapah bah­kan caci maki, tertumpah untuk ne­gara yang punya menara kembar, Pe­tronas ini.

Namun biarlah kita lupakan itu. Tapi yang jelas, banyak reaksi yang muncul ter­hadap negeri jiran Malaysia. Ada yang emosi, ada pula yang lapang dada mengatakan, kita justru disadarkan oleh ”ke­tamakan” mereka. Budayawan Mo­hammad Sobari alias Kang Sobari, sampai berucap, ’’Bangsat Malaysia!’’.

Sedangkan Rieke Dyah Pitaloka me­ngatakan, tidak hanya cukup marah-ma­rah, tapi pertanyakan nyali pemimpin Indonesia, yang tak mampu membuat kebijakan politik yang disegani pemerintah Malaysia.
Namun dengan bijak, Putu Wijaya justru meminta agar jangan hanya ma­rah saja. Persoalannya kekayaan budaya kita sangat banyak, tapi tidak terurus. Begitu ada yang mengusik, langsung ribut.

’’Sudah saatnya kita semua sadar. Wakil rakyat jangan berpikir jadi pejabat. Kalau jadi pejabat jangan jadi pedagang. Kalau jadi pedagang jangan pe­nga­ruhi pejabat. Telah terjadi ketidak­profesionalan di segala bidang. Mari ja­di diri sendiri!’’ saran penyair dan dra­ma­wan itu.

Sedangkan Romo Mudji Sutrisno, justru merasa sedang bermimpi, ketika para budayawan bertemu dengan seorang pedagang jamu bernama Irwan Hi­dayat. Irwan dianggap mampu menjembatani mereka yang sehari-hari berbahasa ekonomi, bertemu dengan mereka yang berbahasa syair, warna, politik dan se­bagainya, sehingga bisa merajut kontribusi yang baik. ’’Ini bisa memuliakan bangsa Indonesia yang pluralis. Ini mim­pi saya,’’ tandasnya.

Sementara itu, hanya dengan en­teng­nya, Arswendo Atmowiloto menangga­pi ribut-ribut dengan Malaysia ini. Ka­ta­nya, biarlah batik diambil. Begitu juga reog dan kesenian lain. Asalkan, Ma­laysia jadi provinsi yang ke-34 dari In­donesia!

’’Ini iklan nasional atau iknas, yang membahagiakan yang mendorong orang menghargai budaya Indonesia. Itu telah di­lakukan Irwan Hidayat,’’ timpal Wen­do dengan gaya cengengesannya.

Jangan kaget, peristiwa dialog bu­daya bertajuk ’Indonesia is Trully In­do­nesia’ di anjungan Bali TMII Jakarta, yang dilaksanakan Rabu (19/12) lalu itu, menandai peluncuran iklan Tolak Angin produksi SidoMuncul, yang di­bin­tangi Butet Kertarejasa dan si cantik Agnes Monica. Iklan tersebut mulai tayang di sejumlah stasiun televisi mulai hari ini (22/12).

Tulisan ’L’ untuk Trully sengaja di­plesetkan jadi dua. Tujuannya untuk menjaga kesadaran, emosi dan rasa ma­rah kita, yang tak perlu berlebihan, sampai ’L’ nya dobel. Selain iklan promosi, juga dibuat versi ’Indonesia Heritage’, yang disumbangkan untuk pemerintah le­wat Depbudpar, Diknas, seluruh Pemda dan DPR-RI.

Iklan nasional begitu Wendo mem­be­ri nama, berisi sindiran pada Ma­lay­sia. Hebatnya, Irwan merencanakan meng­gaet penyanyi Siti Nurhaliza dan Anwar Ibrahim, tokoh politik bakal jadi bintang iklan versi ini. ’’Saya akan coba hubungi. Mudah-mudahan bisa. Anwar Ibrahim sangat mungkin. Kalau tidak mau ya nggak apa-apa,’’ ucap Irwan pa­da wartawan.

Sarasehan budaya yang dipandu pa­kar komunikasi Effendi Gozali itu, wa­lau berlangsung singkat, tetapi menarik per­hatian. Selain dihadiri para bu­dayawan, juga hadir para anggota DPR RI lintas partai, antara lain Alvin Lie, Bambang Sadono, Rustam Effendi, Tuti In­darsih, Mahadi Sinambela, juga pe­lawak Timbul, Triyanto Triwikromo, Pemred Wawasan Sriyanto Saputro, ar­tis Iga Mawarni, Inggrid Wijanarko dan Rieke Dyah Pitaloka.

Dari kalangan politisi, Alvin Lie mengatakan, rasa kebangsaan kita justru ter­gugah karena diusili. ’’Itu justru bisa se­makin memperkokoh. Kita butuh komitmen politik dari berbagai kalangan,’’ tegasnya.

Bagaimana reaksi kita? Boleh emosi boleh juga lapang dada. Kita boleh me­niru aksi Kang Wani, kiai kampung yang memutuskan tidak beli bahan ba­kar di pompa milik Petronas. Atau, me­niru sikap musisi jazz, Idang Rasyidi, yang membatalkan tampil di Malaysia walau bayarannya berlipat. ’’Saya tidak akan main satu not pun di sana, sebelum pe­merintah Malaysia meminta maaf. Sa­ya bukan politisi, tapi saya kecewa de­ngan sikap pemerintah In­do­nesia yang lembek!’’ kecam Idang.   Antoes BS/Am

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan