|
Nyindir Malaysia ala Tolak Angin DI saat negeri tetangga yang mengaku sebagai ’bangsa serumpun’ mencubit Indonesia, dengan mengakui musik angklung, kesenian reog dan lagu Rasa Sayange sebagai miliknya, justru beberapa orang kaya Indonesia bangga bisa pergi ke ’Ke eL’, yang diucapkan dengan lafal Inggris, untuk menyebut singkatan Kuala Lumpur
Tetapi di balik itu, rasa emosi yang membuncah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, seakan tak tertahankan lagi. Dengan segala sumpah serapah bahkan caci maki, tertumpah untuk negara yang punya menara kembar, Petronas ini.
Namun biarlah kita lupakan itu. Tapi yang jelas, banyak reaksi yang muncul terhadap negeri jiran Malaysia. Ada yang emosi, ada pula yang lapang dada mengatakan, kita justru disadarkan oleh ”ketamakan” mereka. Budayawan Mohammad Sobari alias Kang Sobari, sampai berucap, ’’Bangsat Malaysia!’’.
Sedangkan Rieke Dyah Pitaloka mengatakan, tidak hanya cukup marah-marah, tapi pertanyakan nyali pemimpin Indonesia, yang tak mampu membuat kebijakan politik yang disegani pemerintah Malaysia. Namun dengan bijak, Putu Wijaya justru meminta agar jangan hanya marah saja. Persoalannya kekayaan budaya kita sangat banyak, tapi tidak terurus. Begitu ada yang mengusik, langsung ribut.
’’Sudah saatnya kita semua sadar. Wakil rakyat jangan berpikir jadi pejabat. Kalau jadi pejabat jangan jadi pedagang. Kalau jadi pedagang jangan pengaruhi pejabat. Telah terjadi ketidakprofesionalan di segala bidang. Mari jadi diri sendiri!’’ saran penyair dan dramawan itu.
Sedangkan Romo Mudji Sutrisno, justru merasa sedang bermimpi, ketika para budayawan bertemu dengan seorang pedagang jamu bernama Irwan Hidayat. Irwan dianggap mampu menjembatani mereka yang sehari-hari berbahasa ekonomi, bertemu dengan mereka yang berbahasa syair, warna, politik dan sebagainya, sehingga bisa merajut kontribusi yang baik. ’’Ini bisa memuliakan bangsa Indonesia yang pluralis. Ini mimpi saya,’’ tandasnya.
Sementara itu, hanya dengan entengnya, Arswendo Atmowiloto menanggapi ribut-ribut dengan Malaysia ini. Katanya, biarlah batik diambil. Begitu juga reog dan kesenian lain. Asalkan, Malaysia jadi provinsi yang ke-34 dari Indonesia!
’’Ini iklan nasional atau iknas, yang membahagiakan yang mendorong orang menghargai budaya Indonesia. Itu telah dilakukan Irwan Hidayat,’’ timpal Wendo dengan gaya cengengesannya.
Jangan kaget, peristiwa dialog budaya bertajuk ’Indonesia is Trully Indonesia’ di anjungan Bali TMII Jakarta, yang dilaksanakan Rabu (19/12) lalu itu, menandai peluncuran iklan Tolak Angin produksi SidoMuncul, yang dibintangi Butet Kertarejasa dan si cantik Agnes Monica. Iklan tersebut mulai tayang di sejumlah stasiun televisi mulai hari ini (22/12).
Tulisan ’L’ untuk Trully sengaja diplesetkan jadi dua. Tujuannya untuk menjaga kesadaran, emosi dan rasa marah kita, yang tak perlu berlebihan, sampai ’L’ nya dobel. Selain iklan promosi, juga dibuat versi ’Indonesia Heritage’, yang disumbangkan untuk pemerintah lewat Depbudpar, Diknas, seluruh Pemda dan DPR-RI.
Iklan nasional begitu Wendo memberi nama, berisi sindiran pada Malaysia. Hebatnya, Irwan merencanakan menggaet penyanyi Siti Nurhaliza dan Anwar Ibrahim, tokoh politik bakal jadi bintang iklan versi ini. ’’Saya akan coba hubungi. Mudah-mudahan bisa. Anwar Ibrahim sangat mungkin. Kalau tidak mau ya nggak apa-apa,’’ ucap Irwan pada wartawan.
Sarasehan budaya yang dipandu pakar komunikasi Effendi Gozali itu, walau berlangsung singkat, tetapi menarik perhatian. Selain dihadiri para budayawan, juga hadir para anggota DPR RI lintas partai, antara lain Alvin Lie, Bambang Sadono, Rustam Effendi, Tuti Indarsih, Mahadi Sinambela, juga pelawak Timbul, Triyanto Triwikromo, Pemred Wawasan Sriyanto Saputro, artis Iga Mawarni, Inggrid Wijanarko dan Rieke Dyah Pitaloka.
Dari kalangan politisi, Alvin Lie mengatakan, rasa kebangsaan kita justru tergugah karena diusili. ’’Itu justru bisa semakin memperkokoh. Kita butuh komitmen politik dari berbagai kalangan,’’ tegasnya.
Bagaimana reaksi kita? Boleh emosi boleh juga lapang dada. Kita boleh meniru aksi Kang Wani, kiai kampung yang memutuskan tidak beli bahan bakar di pompa milik Petronas. Atau, meniru sikap musisi jazz, Idang Rasyidi, yang membatalkan tampil di Malaysia walau bayarannya berlipat. ’’Saya tidak akan main satu not pun di sana, sebelum pemerintah Malaysia meminta maaf. Saya bukan politisi, tapi saya kecewa dengan sikap pemerintah Indonesia yang lembek!’’ kecam Idang. Antoes BS/Am |