|
Bentrok antarwarga di Solo, 1 tewas Kampung Joyosuran masih mencekam  Foto: Ant SOLO - Suasana mencekam di Kampung Joyosuran, Solo, hingga Selasa siang tadi belum mereda, menyusul bentrokan antarwarga setempat dengan pemuda dari laskar. Bentrokan yang terjadi semalam mengakibatkan nyawa Heri Yulianto (35) alias Kipli melayang. Sedangkan rekannya Tri Joko, warga Kepatihan, mengalami luka serius. Luka Heri cukup parah di bagian kepala, saat dirawat di RSUD Moewardi nyawanya sudah tak tertolong. Sementara itu sumber di Poltabes mengungkapkan, para anggota laskar yang terlibat bentrokan sebagian masih menginap di Poltabes.
Polisi saat ini terus menyelidiki penyebab dan pelaku yang mengakibatkan Heri meninggal dan Tri Joko luka parah.
Bentrokan terjadi sekitar pukul 21.00 WIB di pertigaan Jalan Kapten Mulyadi dan Jalan Kahar Muzakir, Joyosuran. Saksi mata di lokasi mengungkapkan, sebelum bentrokan terjadi ada belasan pemuda yang menenggak minuman keras di pertigaan tersebut. Selang beberapa saat, dari arah utara (Jalan Kapten Mulyadi) muncul sekitar 100 orang dari kelompok laskar dengan berjalan kaki. Setiba di TKP, kelompok tersebut langsung membubarkan belasan pemuda yang berpesta miras.
Namun, upaya pembubaran itu mendapat perlawanan dari para pemuda. Mereka melawan dengan menggunakan bambu dan batu. Perkelahian tak seimbang pun tak terelakkan. Belasan pemuda itu terdesak karena kalah jumlah. Beberapa dari mereka menghubungi teman lainnya sehingga puluhan pemuda berdatangan dan ikut terlibat perkelahian dengan anggota laskar.
’’Warga tahu ada tawuran itu, tapi tidak berani melerai karena takut. Apalagi jumlah massa juga begitu banyak, kami memilih berdiam diri dan menghubungi polisi,’’ ujar warga yang enggan disebut namanya. Pasukan Dalmas Poltabes Solo tiba di lokasi bersama Samapta maupun Satreskrim. Polisi berusaha melerai mereka yang bertikai. Para anggota laskar digiring masuk ke Masjid Muslimin yang berada di RW X. Dan Heri serta Tri Joko segera dibawa ke RS Kustati.
Lantaran Heri mengalami pendarahan yang cukup parah, nyawanya tak tertolong. Korban pun diautopsi di RSUD Dr Moewardi, Solo. Polisi menutup jalan Kapten Mulyadi. Hal ini untuk mencegah tawuran susulan. Para warga di sekitar TKP pun berjaga-jaga di depan rumah mereka. Sekitar pukul 23.30 polisi bernegosiasi dengan para anggota laskar untuk dievakuasi, semula mereka menolak untuk dievakuasi.
Dua anggota laskar dibawa ke mobil petugas dengan kawalan ketat dari polisi. Salah seorang anggota laskar sempat meronta, namun empat polisi sigap dengan memeganginya. Menyanggah Pjs Kapoltabes Solo, Kombes Pol Drs A Syukrani SH memimpin langsung proses evakuasi laskar yang berjalan lama karena mendapat perlawanan. Sementara itu, ratusan warga setempat terlihat mengerumuni kawasan yang menjadi lokasi bentrok. Namun, mereka tidak berani mendekat dan memilih melihat dari kejauhan. Akhirnya evakuasi berhasil dilakukan sekitar dini hari tadi.
Sementara itu dari pihak laskar menyanggah bahwa mereka yang menyerang terlebih dulu. Menurut Joko Aris, salah satu wakil dari laskar, bentrokan bermula saat sekitar 30 pemuda mendatangi Masjid Muslimin untuk mencari salah satu jemaah. Para pemuda tersebut, kata Joko, memang telah mengincar salah satu pemuda masjid.
’’Memang teman saya sudah diincar, mereka tidak terima karena dulu pernah di-sweeping. Kami juga bukan laskar, kami hanya jamaah masjid yang mempertahankan diri karena diserang para pemuda mabuk," ujar dia kepada pers. Dia menambahkan, karena mendengar ada puluhan pemuda mendatangi masjid, dirinya kemudian bersama sekitar 30 jemaah mesjid mengadang di tengah jalan. "Kami melawan dengan senjata seadanya, batu dan kayu. Mereka yang membawa senjata tajam," ujar Joko. Dari catatan Wawasan, kejadian ini yang kedua kali di Kecamatan Pasar Kliwon, beberapa waktu lalu laskar mensweeping pemuda di Semanggi. Namun, saat itu tidak ada korban nyawa. Beberapa anggota laskar yang terkepung di tengah jembatan dievakuasi oleh polisi. K-21-sn |