Halaman Utama
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Mata indah dan sehat tak selalu ’belok’
Monday, 25 August 2008

Mata indah dan sehat tak selalu ’belok’

Image
Foto : Ully
SEJUMLAH anak, tampak bermain di sudut barat Duta Pertiwi Mal. Ada yang memasukkan bola aneka warna ke dalam keranjang. Ada pula yang menyusun bola-bola kecil yang terbuat dari kayu. Lihat saja, si kembar Kevin dan Kevan (3), yang tengah asik berebut bola untuk dimasukkan ke keranjang sampah dengan warna yang sama. Atau Farel (4), yang sedang sibuk membolak-balik bola kayu sesuai warna yang dicontohkan seorang wanita berseragam. Anak-anak itu, tidak sedang bermain di arena permainan anak. Apa yang mereka laku-kan, merupakan rangkaian dari kegiatan lomba Mata Indah dan Sehat yang diselenggarakan RS Islam Sultan Agung, Minggu (24/8).

Bayangan mata indah identik dengan mata belok pun terpatahkan saat melihat ratusan pasang mata bening milik anak-anak tersebut. Ya, mereka yang mengikuti lomba, tidak hanya mereka yang memiliki mata lebar. Tidak sedikit di antara mereka yang memiliki mata kecil.

Pakar penyakit mata dari RS Islam Sultan Agung Semarang, dr Sita Pritasari SpM mengatakan, memang mata indah dan sehat tidak selalu belok. Pada prinsipnya, mata indah dilihat dari bentuknya yang sesuai dengan wajah, bulu mata, tidak dijumpai kotoran mata, warna tidak kemerahan, serta bola mata tidak berair. Sementara, kesehatan mata bisa dilihat dari posisinya yang tidak juling, gerakan mata baik, dan refleks pupil bagus.

’’Untuk mengetahui gerakan mata dan refleks pupil, kami menggunakan berbagai cara. Misalnya, dengan memberi cahaya pada mata. Pupil yang langsung mengecil saat diterpa cahaya, menandakan fungsi saraf pada mata masih bagus,” ujar dia.

Pemeriksaan khusus
Permainan memasukkan bola aneka warna ke dalam keranjang, imbuh dr Sita, bukan dimaksudkan untuk menilai kemampuan anak dalam mengenali warna. Namun, untuk melihat fungsi retina secara sederhana. Misalnya, mata dengan fungsi retina yang bagus, akan bergerak saat melihat bola yang dijatuhkan ke keranjang atau menggelinding di luar keranjang.

’’Memang, sebenarnya ada pemeriksaan khusus yang dilakukan untuk menilai mata sehat. Tapi, hal tersebut tidak mudah diterapkan pada anak-anak. Karena itu, kami berusaha menilai dengan cara yang sederhana, meski dengan cara seperti itu, tidak dapat menilai kondisi mata minus,” kata dia.

Diakui, sekarang ini, permasalahan mata tidak hanya menimpa kalangan dewasa. Banyak di antara anak-anak yang memiliki persoalan pada kesehatan matanya. Hal tersebut, sebagian besar karena pola hidup dan pola makan yang kurang memadai. Misalnya saja, kurang istirahat, kebiasaan membaca di tempat kurang cahaya, berada terlalu lama di depan monitor komputer, hingga menonton televisi terlalu dekat dan lama dengan posisi mata tidak sejajar layar televisi.

’’Kebiasaan buruk yang berlangsung lama pada anak, dapat membuat kemampuan mata berkurang, sehingga mengakibatkan mata minus. Dalam kondisi semacam ini, asupan suplemen tidak terlalu membantu. Sehingga, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjaga kesehatan mata sejak dini,” tandas dr Sita. uly-Yn

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan