Halaman Utama arrow Nasional arrow Jarik penutup jenazah pinjaman tetangga
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Jarik penutup jenazah pinjaman tetangga
Monday, 02 November 2009

Kasus ayah banting bayinya hingga tewas
Jarik penutup jenazah pinjaman tetangga

Image
Foto : Janti Artati-Ct
PEKALONGAN - Tragedi kebrutalan seorang ayah kandung yang nekat membanting bayi anak kandungnya sendiri ditengarai tidak lepas dari himpitan ekonomi. Tersangka Widiyatno (28) warga RT 01 RW 03, Kelurahan Gamer, Kota Pekalongan dinilai tidak mampu lagi berpikir normal. Tekanan ekonomi hingga psikologis — yang disertai tidak adanya lembaran iman yang kuat — menjadikan bayinya itu dianggap sebagai beban.

Pendapat tersebut dikatakan Kepala RSUD Kota Pekalongan dr Bambang yang mencermati kasus bapak banting bayinya hingga tewas. ”Jika tersangka harus diperiksakan ke psikiater, proses hukum harus tetap berlangsung. Harimau saja tidak memakan anaknya, ini kok manusia membunuh anak kandungnya sendiri,” katanya.

Lebih jauh menurut pandangan Bambang, kondisi kemiskinan sering kali membuat seseorang tidak kuat menghadapinya. Apalagi kalau kondisi lingkungan tidak mendukung seseorang untuk kuat menghadapi kejamnya himpitan ekonomi, sehingga memicu terjadinya tindakan brutal.

Ekonomi mengenaskan
Sementara kondisi keluarga ibu korban, Kurniati (18) yang tinggal di tepi rel KA, Kelurahan Tirto sangat mengenaskan. Gubug rumah tempat tinggalnya sangat sederhana. Kurniati yang berpendidikan rendah itu pun tak berani melaporkan tindakan suaminya yang menganiaya dirinya sejak hamil.

Keterpurukan kemiskinan yang menderanya terlihat dengan jelas ketika jasad balitanya itu tiba di rumahnya digeletakkan begitu saja di sebuah dipan. Bahkan untuk menutup bayi berusia empat bulan yang sudah tidak bernyawa itu dia tidak mempunyai selembar jarik dan terpaksa harus meminjam tetangganya.

Rahayu (58), ibu Kurniati, menyesalkan tragedi yang menimpa cucunya itu. "Sejak awal saya sudah menasihati agar tidak usah tinggal di mertuanya, karena mereka tak lagi menyayangi karena membiarkan penganiayaan, bahkan tidak mau memakamkan jenazah cucunya itu di pemakaman umum tempat tinggal mereka," ujarnya terbatabata.

Kurniati mengakui, jika rumah tangga yang dibina selama kurang dari 2 tahun itu tidak berjalan harmonis. Ia sering dianiaya, tidak hanya oleh suaminya sendiri tetapi juga oleh ibu mertuanya."Saya di sana itu sering dikeroyok," ujarnya.

Dia mengakui, suaminya yang bekerja serabutan itu memang temperamental dan kasar. Sejak malam pertama pernikahan suaminya itu memperlakukannya sangat kasar.

Untuk itu jika suaminya tertangkap, dirinya meminta agar dihukum mati, karena telah tega menghilangkan anaknya dengan cara biadab. Leher bayinya putus sedangkan beberapa tubuh lainnya nampak memar karena dipukuli tersangka.

Kapolresta Pekalongan Dr Aris budiman melalui Kasat Reskrim AKP Purwanto mengatakan, pihaknya kini terus memburu tersangka Widiyatno (28). Kepolisian terus mengumpulkan berbagai barang bukti.

Pihaknya berharap, jika terjadi penganiyaan segera melapor ke polisi sebab akan dilindungi dengan UU. "Jangan sampai peristiwa sudah fatal, baru dilaporkan seperti saat ini," imbaunya. K-28/Ct

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan