Halaman Utama arrow Nasional arrow Sang ibu masih trauma
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Sang ibu masih trauma
Tuesday, 03 November 2009

Sang ibu masih trauma
Bayi itu dibanting di depan matanya
 

Image
Foto : Janti Artati-pu
PEKALONGAN -  Kurniati (18) ibu kandung balita, Sinta Kurnia yang masih berusia empat bulan dan tewas dibanting ayah kandungnya, Widiyatno (28), hingga empat hari sejak peristiwa itu, kini masih terlihat trauma. Tak jarang ia sering menangis dan memanggil-mangil anaknya sambil membawa selimut warna biru yang biasa digunakan untuk melindungi anaknya dari sergapan angin.

Trauma itu sepertinya tidak bisa terlepas dari benaknya, bagaimana tidak ? Anaknya yang sedang lucu-lucunya dan beranjak hendak bisa tengkurap itu tewas secara mengenaskan dibanting di tanah bebatuan oleh suaminya, disaksikan mata kepalanya sendiri hingga tidak bergerak.

Saat itu ia tidak mampu berbuat apa-apa dan sesaat hanya terpaku kemudian meraung mendekap bayi itu. Yang masih teringat dan membekas, saat usai dibanting dan hendak dilarikan ke rumah sakit, keluarga suaminya menolak dan menahannya. Agar hal itu tidak dilakukan justru mempertanyakan apakah mempunyai ongkos untuk membayar rumah sakit. ”Anehnya, saat itu tetangga banyak yang takut menolong, namun saya teriak jika bayi saya baru dibanting dan melaporkan kasusnya ke polisi, mereka membawa bayi saya ke rumah sakit,”katanya. 

Meski tubuh Kurniati (18) terlihat bongsor, namun karena usianya yang masih muda terlihat masih lugu. Menceritakan awal perjalanan rumah tangganya, yakni pertemuannya dengan suaminya itu semula ketika ia menonton sebuah keramaian pertunjukan orkes di daerah Kramatsari, Pekalongan.

Dan, gara-gara seorang temannya menunjukan rumah tempat tinggalnya, saat itu ia terus disambangi suaminya yang akhirnya kejadian menjadi pacar. Perangai sesungguhnya suaminya mulai terlihat ketika malam pertama. "Saya yang masih gadis diperlakukan secara kasar sekali, saya sama sekali tidak nyaman dan kesakitan, "paparnya polos.

Kekerasan
Perilaku suaminya itu semakin hari terus menunjukan keburukan, setiap hari kekerasan selalu mendera rumah tangganya sejalan dengan pertumbuhan janin bayi yang ada di kandungannya. Ia yang tinggal di rumah mertuanya di RT 1 /RW 3, Kelurahan Gamer, Kota Pekalongan, tak mampu berbuat banyak. "Saya tak lagi mau ke sana, sakit rasanya,"tegasnya.

Trauama yang dialami Kurniati (18) menurut psikolog dari Lembaga Pengaduan dan Perlindungan Anak dan Remaja (LPPAR) Kota Pekalongan Nur Agustina SPsi MM mengakui, peristiwa itu dinilai sebagai hal yang wajar dialami oleh siapa pun jika mengalami hal yang serupa. Meski demikian, agar trauma itu tidak berlarut, perlu adanya pendampingan orang-orang terdekat untuk tetap memberikan dorongan semangat untuk membesarkan hatinya sekaligus perlindungan secara psikologis. Sehingga ia benar-benar mampu memasrahkan diri terhadap tragedi yang dialami dengan sepunuh hati. Dengan demikian ia bisa menjalani kehidupannya kembali dengan normal. "Kami siap untuk memberikan bantuan konsultasi,"ujarnya.

Disinggung menangani himpitan ekonomi, Nur Agustina menilai jika hal itu menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dikesampingkan. Sedangkan pelakunya Widiyatno (28) mengalami gangguan emosional yang mudah marah dan temperamental. Perasaan itu muncul apabila hatinya merasa terganggu, sehingga ketika anak kandungnya sendiri menangis dianggap mengganggunya. "Meski Widiyatno (28) mengalami hal itu yang bersangkutan belum sampai pada taraf terganggu jiwanya," ungkapnya.

Petugas Polresta Pekalongan hingga kini masih memburu tersangka Widiyatno (28). Informasi yang diperoleh dari lingkungan yang bersangkutan dikenal juga sebagai preman. "Saat ini kami terus melacaknya untuk meringkus agar mempertanggungjawabkan perbuatan biadabnya,"kata Kasat Reskrim AKP Purwanto.

Tragedi kebrutalan seorang ayah kandung yang nekat membanting anak kandungya sendiri yang dilakukan oleh Widiyatno (28) hingga kini masih mengundang perhatian masyarakat Kota Batik. Mereka sepertinya tidak percaya seorang ayah membanting anak kandungnya yang masih balita di depan istrinya hingga tewas.  K.28-pu

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan