Halaman Utama arrow Nasional arrow Kurniati minta suaminya dihukum mati
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Kurniati minta suaminya dihukum mati
Wednesday, 04 November 2009

Kasus ayah banting bayinya hingga tewas
Kurniati minta suaminya dihukum mati

Image
Foto : Janti Artati
PEKALONGAN  - Widiyatno (28) warga RT 1/RW 3, Kelurahan Gamer, Kota Pekalongan, seorang ayah yang membanting anak bayinya hingga tewas, hingga kini keberadaannya masih belum terlacak. Dia menghilang setelah melakukan aksi brutal terhadap anaknya tersebut Jumat pekan lalu. Kapolresta Pekalongan AKBP Drs Aris Budiman melalui Kasat Reksrim AKP Purwanto SH, Rabu (4/11), mengatakan pihaknya meminta masyarakat yang mengetahui keberadaan Widiyatno, segera menghubungi petugas terdekat. Bahkan kini petugas akan mengambil langkah tegas, jika yang bersangkutan tidak menyerahkan diri.Dalam pelacakan petugas terus menghimpun berbagai petunjuk dan ciri pelaku dari orang-orang terdekat, yang biasa menjadi tempat tongkronganya. ”Saat ini kami tidak akan pernah berhenti memburunya untuk meringkus,” ujarnya.

Hanya ada satu-satunya petunjuk foto wajah pelaku, dari foto itu petugas terus melakukan pengembangan pelacakan.

Sementara ibu kandung bayi Sinta kurnia, yakni Kurniati di Kelurahan Tirto, Rabu (4/11),  mulai menunjukan kemajuan psikologisnya. Kendati demikian ia bahkan selalu menanyakan soal suaminya, apakah sudah tertangkap. Ia mengharap  suaminya bisa diringkus secepatnya. ”Ia pantas dihukum mati karena kebiadabannya,” katanya.

Diakuinya, ia sudah tidak akan ingin lagi memikirkan  kembali nasib suaminya yang dinilai sudah menyakitkan jiwanya. Sebelum  tujuh hari kematian anak ia mengharapkan petugas bisa meringkusnya.

Minta didampingi
Disinggung apakah ia akan kembali ke rumah mertuanya, ia tidak mempunyai niat sama sekali sejak anakke lantai 2, tempat salat wanita. Ketika salat, Jeng Minul tiba-tiba kaget ketika rukuk mendapati kakinya tanpa mukena bagian bawah, langsung Jeng Minul membatalkan salatnya. Lebih kaget dan malu lagi ketika Jeng Minul menyadari banyak wanita di sekitarnya yang cekikikan melihat kejadian itu.

Karena tak tahan ditertawakan, Jeng Minul langsung turun dan keluar masjid menemui suaminya. Mungkin karena saking pikiran takut barangnya hilang ya, jadi mukena bawahnya malah ketinggalan.  
Zudi Setiawan, Prambatan Kidul RT 06/01 Kaliwungu Kudus-wied—sn

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan