.:: SEGENAP KARYAWAN KORAN SORE WAWASAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ::.

WawasanDigital - Aktivitas suporter sepakbola di luar lapangan (3-habis)
Halaman Utama
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Business Wisdom

"Customers" are the people, the citizens of the empire. In marketing, people are our customers, and our customers are king, we serve at their pleasure

Sun Tzu

Aktivitas suporter sepakbola di luar lapangan (3-habis)
Thursday, 04 February 2010

Aktivitas suporter sepakbola di luar lapangan (3-habis)
Berobsesi jadikan Pasopati bengkel manusia

Image
Foto: weynes-Ct
SUASANA
mencekam sangat terasa, saat pecah perang antara supporter Semarang dengan suporter Solo, Pasoepati. Ketika itu di Sta-dion Manahan Solo digelar pertandingan antara Persijatim melawan PSIS (Semarang), entah mengapa justru terjadi perang suporter yang sama-sama berbasis di Jawa Tengah tersebut.  Ketegangan antara dua suporter benar-benar terasa, seperti hendak terjadi tawuran. Pasoepati mengepung jalan-jalan ke luar stadion Manahan, sementara suporter Semarang terkurung di dalam tak bisa pulang kendati pertandingan malam itu telah usai.

Akhirnya tengah malam sekitar pukul 24.00 aparat keamanan berhasil menghalau Pasoepati. Suporter Semarang dikawal ke luar dari stadion dan bisa pulang ke Semarang dengan selamat. Ketegangan pun usai.

Cerita di atas hanya penggalan kisah perseteruan antarsuporter pendukung kesebelasan sepakbola, yang mestinya tidak perlu terjadi. Seiring perjalanan waktu perang antarsuporter, dalam arti sampai terjadi ketegangan, sudah tidak ”terdengar” lagi di Solo dalam beberapa tahun terakhir ini.

Hanya saja baru-baru ini perang antara suporter suatu kesebelasan dengan warga pecah di Solo. Yakni ketika suporter Persebaya (Surabaya) yang dikenal dengan sebutan Bonek (bondho nekat, red) berangkat maupun pulang naik kereta api (KA) mendukung kesebelasan kesayangannya melawan Persib (Bandung).

Perang batu pun pecah yang mengakibatkan sejumlah Bonek, warga, wartawan hingga polisi terluka. Begitu pula terdapat sejumlah gerbong KA maupun stasiun rusak terkena lemparan batu.

Kekecewaan
Menurut Presiden Pasoepati, KP Satryo Hadinegoro, munculnya tindak kekerasan dari suporter sepakbola dipicu oleh kekecewaan. Sebagai contoh, suporter kecewa terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan kesebelasan kesayangannya. Begitu pula sikap dari suporter kesebelasan lawannya yang tiba-tiba main lempar botol minuman.

Sikap demikian itulah berujung pembalasan. "Kejadian itu akan memicu tindak kekerasan, baik di dalam maupun luar stadion, " ujar dia.

Bagaimanakah cara meredam atau meminimalisasi terjadinya tindak kekerasan dari suporter?

Dijelaskan Satryo, saat pertandingan ada pemandu yang mengarahkan suporter untuk berbuat baik, misalnya suporter diajak bernyanyi bersama atau meneriakkan yel-yel dukungan tanpa melukai perasaan suporter kesebelasan lawannya. Begitu pula supoter cukup menggelar tulisan bernada dukungan bukan mengolok-ngolok kesebelasan lawan tanding.

Seperti misalnya, sekarang ini, jika Persis (Solo) bertanding di Solo selalu ada suguhan lagu-lagu atraktif mauapun yel-yel yang dipimpin seorang atau lebih. Dengan terbangunnya suasana seperti itu akan mengurangi terjadinya tindak negatif dari suporter. "Itu merupakan kerja dari tim kreatif," ujar dia.

Bagaimana dengan penyulutan kembang api yang kini semakin marak?

Satryo mengatakan, hal itu memang sulit dikendalikan karena di pintu masuk stadion tidak ada yang merazia. "Kami sendiri sebenarnya sudah melarang mereka untuk membawa piranti yang bersifat dapat mengganggu pertandingan, tapi ada saja yang lolos," ujarnya.

Seperti saat Persis menjamu Persiba (Bantul), kembang api meluncur dari tribun utara dan mengarah ke penjaga gawang Persiba, Wahyu. Dan itu terulang saat Persis menghadapi Pro Duta (Sleman). "Insiden semacam itu dapat dicegah, jika aparat tanggap. Sebelum masuk stadion, suporter digeledah apakah membawa barang-barang yang membahayakan," ujar Satryo lagi.

Mengelola ataupun membina suporter sepakbola yang jumlahnya ribuan orang memang bukan persoalan gampang. KP Satryo mengatakan, sepanjang kebutuhan asasi mereka terpenuhi. "Mereka juga manusia yang butuh perhatian, butuh diajak komunikasi. Kuncinya yaitu ada komunikasi yang baik di antara kita aja," tambah dia.

Pelatihan keterampilan
Ada sebuah obsesi dari pengurus untuk menjadikan Pasoepati sebagai bengkel manusia. Artinya, ada pelatihanpelatihan keterampilan bagi para suporter. "Kan tidak mungkin mereka akan menjadi suporter terus. Mereka juga butuh makan. Belum ada pihak yang mau mengulurkan tangan," katanya.

Dijelaskan, Pasoepati pada tahun 2008 silam mengadakan jambore. Kegiatan ini dirancang untuk menggalang dan mempererat tali keluargaan antarsuporter yang dikemas bukan saat ada pertandingan sepakbola kesebelasan kesayangannya.

Pada 24 Februari mendatang, Pasoepati akan berkongres. Di forum ini akan dipilih presiden yang baru. Dalam perjalanan sejarahnya, Pasoepati sudah empat kali dipimpin seorang presiden, yakni Mayor Haristanto, Bimo Putranto dan KP Satryo Hadinegoro sebanyak dua periode.

Satryo sudah menyatakan tidak akan mencalonkan lagi, atau pun mau dicalonkan lagi. Dia memberi kesempatan kepada yang lain untuk memimpin Pasoepati. "Harus ada pengkaderan di tubuh organisasi yang nonpartisan parpol ini. Ini agar organisasi ini tambah kreatif dan dewasa," harapnya.

Menurut dia, yang terpenting adalah menjadikan Pasoepati sebagai salah satu ajang membina keluarga nantinya. Reko Suroko-Ct

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan