|
Gatal-gatal digaruk sampai berdarah OPTIMISME akan keberhasilan operasi cangkok hati yang bakal dijalani Bilqis Anindya Passa, terpancar dari wajah orang tua dan kerabat yang ikut mengantar warga Jalan Kramat Sentiong, Gang Masjid Nomor E 87 F RT 007 RW 06, Jakarta Pusat ini ke RSUP dr Kariadi.
Memang, sebelumnya pihak keluarga sempat akan membawa Bilqis untuk menjalani pemeriksaan dan operasi di Singapura. Tapi, setelah mendapat referensi dari Menteri Kesehatan, pihak keluarga pun memutuskan untuk membawa Bilqis ke Semarang.
”Kalau sanggup dioperasi di sini, buat apa jauh-jauh ke Singapura. Tapi, tentu saja kami akan melihat dulu, pertanggungjawaban pihak rumah sakit sampai di mana,” ujar Bahrudin Syatha, kakek Bilqis, yang ditemui saat mendampingi pemeriksaan cucunya di RSUP Dr Kariadi, Rabu (3/2) kemarin.
Dia sendiri sangat berharap, cucu kesayangannya itu dapat hidup normal layaknya teman seusianya. Maklum saja, sejak dilahirkan 17 bulan silan, Bilqis lebih banyak menjalani aktivitas keseharian di rumah sakit ketimbang di rumahnya sendiri. Tidak hanya itu, Bahrudin juga tidak tega melihat cucunya selalu merasakan gatal-gatal di sekujur tubuhnya, akibat penyakit yang dideritanya. \ ”Badannya sampai berdarah-darah, karena tangannya tidak berhenti menggaruk. Bahkan, kukunya sampai copot karena digigit untuk menahan rasa sakit. Sampai-sampai kami harus melakban kukunya biar tidak digigit dan tidak sampai melukai badannya,” terang dia. Lagu Alunan lagu dari ST 12 pun dijadikan ”obat” untuk sekadar mengalihkan rasa sakit dan gatal yang dialami adik dari Ratu Aqila Passa (3) ini. Sebab, begitu musik dari ST 12 diputar, Bilqis langsung menggerakkan tangannya dan bergoyang. Karena itu, Bahrudin begitu terharu saat seluruh personel ST 12 menyempatkan untuk mengadakan konser di rumahnya. "Kami sendiri kaget saat tiba-tiba ST 12 datang ke rumah atas kemauan sendiri. Bilqis sangat senang dengan kehadiran ST 12. Dia tidak berhenti bergoyang saat grup band itu konser di rumah," ujar dia, yang diamini Ojham Syamsier yang juga kakek Bilqis. Tidak hanya itu, karena penyakit yang diderita, di usianya sekarang ini Bilqis hanya bisa mengonsumsi makanan cair. Makanan yang hendak diberikan direbus dulu, kemudian diblender dan disaring. Mendapat makanan yang kasar sedikit saja, tubuh gadis cilik itu langsung bermasalah. Beruntung, Bilqis masih bisa mengonsumsi air susu ibu, di samping pemberian susu formula sebagai tambahan. Diungkapkan, sejak dalam kandungan, sebenarnya tidak ada keluhan yang dirasakan Dewi Farida, ibunya. Namun begitu lahir, badan Bilqis sudah menunjukkan gejala kuning. Bahkan, fecesnya pun berwarna putih seperti kapur, karena tidak adanya pewarnaan dari empedu. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Bilqis bayi langsung dirawat di inkubator. Hingga pada usia 50 hari menjalani operasi kasai. Namun, operasi itu masih belum bisa memulihkan kondisi Bilqis. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan Bilqis pun sudah terhitung banyak. Setidaknya, Rp 600 juta sudah dibayarkan selama Bilqis menjalani operasi kasai maupun rawat inap di rumah sakit. Karenanya, pihak keluarga menaruh harapan besar akan keberhasilan operasi cangkok hati yang bakal dijalani Bilqis. Ully Manik-Ct |