|
Anak kecelakaan, bapak 10 anak gantung diri Tak kuasa menanggung beban hidup DAYA tahan masyarakat di tingkat bawah menghadapi kemiskinan sudah mendekati titik nadir. Seorang pensiunan karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI), Sunargo (75) warga Dusun Karangjati, Desa Mojoagung, Karangrayung, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena tidak mampu membiayai perawatan anaknya yang mengalami kecelakaan dan dirawat di Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Solo (Wawasan 4/2).
Sebelumnya, Ny Diana dan suaminya meninggalkan tiga anak balitanya selama lima hari hingga mengalami kelaparan. Keluarga muda yang tinggal di Cipondoh, Tangerang, itu menelantarkan anak balitanya karena kemiskinan yang menderanya.
Tindakan bunuh diri dengan cara gantung diri yang dilakukan Sunargo (75), Jumat kemarin (5/2) menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Selain meninggalkan seorang istri, Yati, korban juga meninggalkan 10 anak yang tinggal di Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan.
Beberapa kerabat korban menuturkan, kenekatan korban diduga dilatarbelakangi beban hidup yang dihadapinya. Maklum, dalam kondisi sudah pensiun sebagai karyawan PT Kereta Api Indonesia (KAI) golongan rendah ia masih menanggung kebutuhan keluarga yang cukup banyak.
Anaknya semua ada 10 orang. Tujuh anak kandung dengan istri pertama, dan tiga anak sebagai gawan (bawaan-red) dengan isrinya yang kedua. Namun, beberapa anaknya dari istri pertama sudah berkeluarga.
”Istrinya yang pertama meninggal dunia beberapa tahun lalu. Kemudian sekitar tiga tahun lalu, ia menikah dengan janda warga Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung,” ujar Ningrum, seorang kerabat korban, kemarin.
Anak korban dari istri pertama tinggal di Desa Mojoagung. Sementara, korban dan istrinya tinggal di rumah Yati, di Desa Ketro.
”Tapi saat gantung diri di rumah anaknya di Mojoagung yang tidak jauh dari rumah istri mudanya,” tambah dia yang membenarkan saat anaknya yang kecelakaan masih berada di RSO Solo. Tak terdaftar Diceritakan, menjelang bunuh diri korban mengeluhkan tanggungan biaya berobat anaknya, Dimas S (15), yang mengalami kecelakaan sekitar tiga minggu yang lalu. Dimas adalah anak gawan dari istri muda. Tapi sejauh ini jadi tanggungan dari Sunargo. Saat ini Dimas masih dirawat di Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Solo. Lukanya cukup serius dan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 12,5 juta. Sementara, Kepala Desa (Kades) Mojoagung, Joko Aryadi membenarkan jika korban setiap harinya tinggal di Desa Ketro. Ia membenarkan, beberapa hari sebelum kejadian ia sempat mengurus surat ke balai desa untuk kepentingan asuransi kesehatan (Taspen) biaya anak tirinya. Namun, saat diurus ternyata belum juga selesai karena harus menunggu proses. Padahal kebutuhan uang cukup mendesak. "Soal asuransi dari Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat) karena pegawai, ia tidak terdaftar dalam Jamkesmas maupun Jamkesda," kata kades. Nto-pu |