|
Bayi mirip Bilqis di Banyumas Tabib tak praktik lagi, pengobatan terhenti  Foto: Hermiana E Effendi-yan NASIB yang dialami Bilqis, ternyata juga menimpa seorang bayi berusia 19 bulan, Abdullah Ichsanul Fikri. Anak pasangan Abdul Salam (33) dan Ani Purwaningsih (32), warga Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Banyumas ini menderita kelainan saluran empedu sejak berusia dua bulan. Karena ketidakmampuan orang tuanya, Ichsanul kecil hanya menjalani pengobatan alternatif di kampungnya. Bahkan pengobatan tersebut terpaksa dihentikan, saat sang tabib tidak membuka praktik lagi.Jika Bilqis kecil saat ini tinggal menunggu waktu operasi, maka Ichsanul baru merintis jalan untuk mencari pengobatan gratis. Maklum, orang tua Ichsanul tidak mengenal facebook, sehingga tidak bisa menggalang dana untuk putera tercintanya.
Kondisi Ichsanul sangat memprihatinkan, perutnya membesar, begitupun dengan pusar serta alat kelaminnya. Sementara kedua matanya berwarna kuning. Menurut penuturan ibunya, gejala sakit anaknya mulai dirasakan sejak usia sekitar 45 hari. Waktu itu, Ichsanul kecil kerap menangis. Ibunya membawanya berobat ke bidan, tetapi sakitnya tidak kunjung sembuh, bahkan badan dan matanya mulai menguning.
’’Waktu itu anak kami dikira sakit kuning, tetapi sesudah diobati tidak sembuh-sembuh. Kami lalu membawanya ke rumah sakit,” kata Ani.
Abdul Salam yang bekerja sebagai tukang dekorasi disebuah perusahaan di Jakarta, harus banting tulang untuk mengobati anaknya. Terlebih lagi sesudah menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, anaknya divonis terkena kelainan saluran empedu.
"Saya tidak tahu itu penyakit apa, menurut dokter itu penyakit serius dan anak kami harus rutin menjalani perawatan, " kata Abdul Salam. Alternatif Sayangnya, Abdul Salam hanya mampu membawa berobat anaknya hingga usia satu tahun. Waktu itu, perut Ichsanul sudah mulai membengkak. Kedua orang tuanya kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Sejak itu, Ichsanul kecil hanya menjalani pengobatan alternatif di kampungnya dari seorang tabib. "Pengobatan ini menggunakan ramuan herbal, perkembangannya cukup bagus, berat badan anak kami naik karena bisa tidur saat malam hari," tutur Ani. Namun, pengobatan alternatif tersebut terpaksa berhenti karena sang tabib sakit dan tidak lagi membuka praktik. Kondisi Ichsanul kembali memburuk. Akhirnya kedua orang tuanya sepakat untuk membawanya kembali ke Jakarta. "Suami saya sudah menghubungi Lembaga Kesehatan Cuma-cuma (LKC) di Jakarta, yang akan memberikan bantuan pengobatan gratis bagi anak kami, rencananya kami akan berangkat minggu ini juga. Kami berharap pengobatan untuk anak kami bisa terealisasi," kata Ani. hef-yan |