|
Bilqis terus gatal-gatal SEMARANG - Hingga kini Bilqis Anindya Passa masih terus menjalani sejumlah pemeriksaan sebelum dilakukan operasi transplantasi hati, termasuk, menjalani program peningkatan berat badan. Asupan obat-obatan Bilqis, diberikan melalui infus. Namun, gadis cilik itu masih terus merasakan gatal di seluruh tubuhnya.
Menurut Dewi Farida, ibu Bilqis, jumlah pendonor hati untuk Bilqis semakin bertambah. Saat ini setidaknya sudah empat orang yang menghubunginya dan menyatakan kesediaan mendonorkan hatinya. Jumlah itu belum termasuk mereka yang menghubungi posko di Jakarta, yang jumlahnya lebih banyak.
Kendati begitu dengan berbagai pertimbangan tetap lebih mengutamakan pendonor yang berasal dari keluarga. Dari keluarga sendiri ada sekitar 10 orang, yang bergolongan sama dengan Bilqis dan sudah menyatakan bersedia.
Tapi, tetap saja Dewi menunggu kepastian apakah memang pencangkokan hati tidak bisa diambilkan dari ayah dan ibunya.
Tidak hanya pada tindakan operasi yang membutuhkan biaya tinggi, keluarga Bilqis juga bakal dihadapkan pada persoalan pembiayaan pascaoperasi, di mana bocah berusia 17 bulan itu harus mengonsumsi obat sepanjang hidupnya.
Biaya untuk pembelian obat pun cukup besar. Yakni, mencapai Rp 5 juta-Rp 10 juta setiap bulannya. Biaya itu nantinya akan diambilkan dari bantuan koin peduli Bilqis.
Mengingat bantuan yang terkumpul untuk Bilqis terhitung banyak, pihak keluarga merencanakan mendirikan yayasan cangkok hati, untuk membantu anak-anak dengan kelainan atresia bilier. Apalagi, tidak sedikit anak dengan kelainan seperti itu yang berasal dari kalangan tidak mampu. Intensif Anggota Tim Cangkok Hati RSUP Dr Kariadi, Prof dr Herlan SpPD, menjelaskan, pihaknya masih terus mengintensifkan pemeriksaan terhadap Dewi Farida, ibu Bilqis, yang disebut-sebut bakal menjadi donor hati bagi anaknya. Diakui, pihaknya memang tengah berupaya agar donor hati diambilkan dari orang tua Bilqis, meski golongan darah mereka tidak sama. Namun begitu, jika hasil pemeriksaan menunjukkan pencangkokan dengan donor dari orang tua memiliki risiko yang besar, tim dokter tetap akan mengunakan donor lain. "Tapi, sejauh ini kami belum melakukan pemeriksaan terhadap pendonor di luar keluarga," beber dia. Komisi VIII DPR RI terus mendesak pemerintah untuk mengalokasikan anggaran khusus, untuk menangani kelainan pada anak, seperti yang dialami Bilqis Anindya Passa, penderita atresia bilier. Pasalnya, penanganan kelainan yang diderita sejak lahir seperti itu, membutuhkan biaya tidak sedikit. Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kadir Karding, menyampaikan, tidak hanya pada Bilqis, kelainan atresia bilier atau penyakit bawaan lainnya kemungkinan terjadi pula pada banyak anak. Baik dari kalangan mampu maupun tidak. uly-yan |