Halaman Utama arrow Kedu Yogya arrow Doa lintas agama untuk Gus Dur
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Doa lintas agama untuk Gus Dur
Monday, 08 February 2010

Doa lintas agama untuk Gus Dur

WONOSOBO -Ribuan orang yang berasal dari berbagai agama dan keimanan seperti NU, Ahmadiyah, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan berbagai aliran kepercayaan, padati Pendapa Pupati Wonosobo dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya guru bangsa KH Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gus Dur, semalam.

Dalam acara yang diselenggarakan Gerakan Pemuda Ansor Wonosobo ini, diawali pembacaan puisi, testimoni, renungan dan cuplikan aktifitas dan dagelan ala Gus Dur dalam berbagai acara di televisi.Ditutup dengan pembacaan doa bersama berbagai tokoh agama dan keyakinan yang hadir.

"Setelah terjadinya bencana gempa di Yogyakarta, ada seseorang yang tanya kepada saya, penyebabnya gempa di sana itu apa. Orang ini aneh kata saya, lha wong saya ini bukan ahli geologi kok ditanya begitu sama saya.Akhirnya, ya saya jawab aja bahwa penyebabnya karena Nyi Roro Kidul dipaksa pakai jilbab," tutur Gus Dur diikuti gelak tawa hadirin yang ada dalam satu acara di televisi swasta saat masih hidup - yang diputar dalam acara doa lintas iman semalam.

"Karena hobi humornya itulah Gus Dur menjadi salah satu tokoh dunia yang unik.Bahkan dalam merespon berbagai konflik dan polemik yang ada sering dengan entengnya beliau menanggapi dengan humor," kata Nakib Al-Ghozali sesepuh Ansor Wonosobo.

Namun jangan salah, lanjut Nakib, tanggapan Gus Dur dengan humor dan ceplasceplos itu memiliki makna yang sangat dalam. Bahkan, terkadang kita tidak bisa mengikuti alur berpikir beliau.Sebab pola pikir yang dibangun jauh dari jangkauan manusia biasa.

Bupati Wonosobo Kholik Arif memiliki kesan luar biasa terhadap Gus Dur. Saat "Gus Dur hadir dan menginap di Wonosobo, beliau memberikan perhatian tersendiri buat Wonosobo yakni meminta untuk memperhatikan keberadaan Dieng. Beliau sempat menyuruh saya untuk memulai membuat buku sejarah tentang berdirinya Wonosobo. Menurut beliau, kota ini sangat tua, bahkan dulu di Dieng itu merupakan salah satu pusat peradaban di tanah Jawa. Sehingga belia meminta ke saya untuk memperhatikan keberadaan Dieng," kata bupati.

Hasan Akli, Ketua Tionghoa Wonosobo mengatakan, berbagai tokoh agama yang hadir merasa sangat kehilangan sosok Gus Dur. Karena di mata para tokoh tersebut, Gus Dur mampu mengayomi seluruh umat beragama yang ada di Indonesia dan bahkan di Dunia.

Di Purworejo
Pimpinan Ponpes Al Muayat Solo KH Dian Na"fi MA legasi atau warisan ajaran agama-agama dari Gus Dur perlu dipahami lebih dalam dan nilai-nilainya dikembangkan untuk mendewasakan masyarakat majemuk dan mencerdaskan kehidupan bangsa. "Masyarakat tersisih harus mendapatkan afirmasi sepatutnya. Kearifan lokal yang telah usang harus direstorasi, " tegasnya pada sarasehan 40 hari wafatnya Gus Dur yang diselenggarakan Paguyuban Peduli Bangsa bekerja sama dengan LPH YAPHI di Wisma Ganesha Purworejo, Sabtu (6/2).

Menurut Dian Na"fi, perbedaan suku, agama, dan ras menjadi penghalang untuk komunikasi alamiah antarkelompok di tanah air. Halangan itu memperlambat pendewasaan masyarakat majemuk Indonesia. Ketika represi politik terjadi, masyarakat terkondisikan ke dalam kotak-kotak yang memunculkan konflik.

Dian Na"fi menambahkan, kekuatan yang harus dikembangkan antara lain spirit untuk saling belajar, perilaku aktif tanpa kekerasan, kecakapan menyelesaikan konflik yang adil melalui negosiasi, konsiliasi, mediasi, arbitrasi, litigasi, dan legislasi. Termasuk pemihakan kepada kearifan lokal dan penguatan potensi lokal. Nam/Dr-skh

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan