|
SBY telat ambil alih SURABAYA - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menanggapi hasil akhir Pansus Angket Century DPR RI, dianggap sebagai langkah sia-sia dan terlambat.
Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menilai, seharusnya SBY lebih tepat bersikap demikian pada saat kasus bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 triliun belum ramai dibicarakan dan dipansuskan.
’’Saya kira kalau presiden mau mengambil alih kasus Century, mestinya dilakukan jauh-jauh hari. Ini akan lebih sederhana. Jadi, sebagai kepala negara punya hak untuk mengambil tindakan atas nama keselamatan negara,” kata Hasyim usai membuka Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi di Hotel Majapahit Surabaya, Jumat (5/3).
Langkah SBY mengambil alih kasus Bank Century, menurut mantan cawapres pasangan Megawati saat pilpres 2004 ini, maksudnya adalah SBY atas nama keselamatan negara harus siap bertanggung jawab ke MPR RI saat akhir masa jabatannya.
Artinya, jika itu dilakukan, kasus Century diperkirakan tidak akan merembet ke ranah hukum, politik dan administrasi seperti yang sekarang ini terjadi.
’’Itu kalau SBY mau bertindak dan berposisi sebagai kepala negara. Tapi, saat pidato di Istana Negara kemarin, SBY masih memposisikan sebagai presiden atau kepala lembaga tertinggi eksekutif. Artinya, SBY terpaksa harus membagi mana yang masalah politik, hukum dan administrasi,” tegasnya.
Pengasuh Ponpes Al-Hikam Malang ini mengkritik SBY terlalu lamban dalam menyikapi kasus Bank Century yang berakibat terjadinya gelombang unjuk rasa di berbagai daerah.
’’Seharusnya SBY bersikap mengambil alih sebagai kepala negara dulu jauh-jauh hari, sebelum segala sesuatunya diedhel-edhel seperti ini,” pungkasnya.inl—sn |