|
Buntut bentrok Makassar polisi-KAHMI bentuk TPF  Foto: Antara MAKASSAR - Polisi dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), sepakat membentuk Tim Pencari Fakta beranggotakan 10 orang. Tim ini akan untuk mengusut bentrokan yang terjadi antara mahasiswa, warga dan polisi.Ini merupakan hasil dari pertemuan Kapolda Sulselbar Irjen Adang Rochyana, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, dengan aktivis HMI, anggota KAHMI serta sejumlah rektor universitas se-Makassar. Pertemuan yang berlangsung selama 3,5 jam ini berlangsung di Baruga Anging Pettarani, kompleks rumah jabatan Walikota Makassar, kawasan Pantai Losari, Makassar, Jumat (5/3).
Tim tersebut akan beranggotakan 10 orang. Tiga orang perwakilan HMI, tiga anggota KAHMI, tiga anggota polisi dan seorang lagi adalah Walikota Makassar sebagai mediator.
Namun pihak HMI menolak untuk terlibat dalam TPF yang dibentuk Walikota. TPF dinilai tidak steril karena melibatkan polisi di dalamnya.
Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Sulsel Andi Heny Handayani yang ditemui detikcom usai pertemuan. Menurut Heny, HMI akan membentuk TPF sendiri.
”HMI punya cara sendiri dalam memandang persoalan ini, kami akan menginvestigasi sendiri penyerangan wisma kami sehingga kami bisa menghasilkan rumusan kelembagaan HMI yang resmi,” pungkas Heny.
Situasi di beberapa titik di Makassar yang biasanya menjadi pusat aksi massa, Sabtu (6/3) pagi tadi terlihat le-ngang. Tidak tampak massa yang bergerombol. Aktivitas warga juga berlangsung normal.
Sementara polisi kembali bentrok dengan massa HMI di Cikini, Jakarta, semalam. Mantan aktivis HMI Akbar Tandjung terus mengimbau pihak kepolisian untuk tidak melakukan perlawanan secara fisik. "Jangan terlalu cepat bereaksi. Tentu ada memang tindakan mahasiswa itu yang tidak tepat, tapi kalau terlalu cepat bereaksi tentu akan menimbulkan adanya aksi fisik," ujar Akbar di Jakarta, Sabtu (6/3). Menurut Akbar, mahasiswa merupakan orang-orang muda yang penuh idealisme.Hal tersebut terjadi tentu karena keinginan mereka untuk menyampaikan aspirasinya kepada publik melalui rasa idealismenya itu. "Tentu yang kita harapkan tidak seperti itu. Mungkin ada adik-adik anggota HMI yang melempar batu kemudian saling balas, tapi penanganannya saya pikir tidak perlu dilakukan secara fisik," tutur Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar ini. Selain itu, Akbar juga mengimbau agar pihak kepolisian memaklumi semangat muda mahasiswa. Walaupun di sisi lain mahasiswa juga harus bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan anarkis yang merugikan masyarakat. "Dengan dinamika yang ada saya melihat itu mungkin memang gayanya mahasiswa seperti itu. Sebaiknya jangan ada lagi kejadian-kejadian yang mengarah kepada tindakan fisik," pungkasnya.dtc/yan |