.:: SEGENAP KARYAWAN KORAN SORE WAWASAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H. MINAL 'AIDIN WAL FA'IZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ::.

WawasanDigital - Khaerun, kanibal asal Kendal
Halaman Utama
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Business Wisdom

Bertahan hari ini untuk berkembang hari esok

Budi Santoso

Khaerun, kanibal asal Kendal
Monday, 08 March 2010

Khaerun, kanibal asal Kendal Jantung dimakan mentah, organ lain dimasak

Image
Foto: Agus Umar-yan
KENDAL - Terungkapnya kasus kanibal ala Sumanto di Batam dengan tersangka Khaerun (27) Warga Desa Podosari RT 3 RW I Kecamatan Cepiring, Kendal membuat geger desa setempat. Orang tua dan adik tersangka mengaku kaget dan tidak percaya kalau anaknya tega membunuh orang. Apalagi dengan cara dimutilasi dan dimakan jeroannya sebagai syarat untuk mempelajari ilmu kebal.’’Saya sangat kaget dan tidak percaya saat kalau Khaerun membunuh orang,” ujar ibu tersangka, Jumiati (53) kepada wartawan, Minggu (7/3).

Jumiati mengatakan, pertama kali mendapat kabar kalau anak pertamanya ditangkap polisi karena membunuh orang, melalui televisi. Menurut Jumiati, enam tahun lalu anaknya Khaerun meminta izin kepadanya untuk bekerja ke Batam. Selama enam tahun di perantauan Khaerun, sama sekali tidak pernah pulang dan menghubungi atau memberi kabar kepada keluarga, sehingga keluarga tidak pernah tahu apa pekerjaan Khaerun di Batam.

Bahkan karena tidak pernah ada kabar orang tuanya sempat mengira kalau Khaerun sudah meninggal. Keluarga sudah sempat mencari tahu melalui dukun dan sempat menggelar tahlilan untuk mendoakan Khaerun beberapa kali. ’’Kalau memang masih hidup semoga cepat pulang sedangkan kalau sudah meninggal keluarga akan ikhlas,” cerita Jumiati.

Jumiati mengaku, sebelum Khaerun dikenal sebagai anak yang rajin dan saleh karena setiap hari membantu pekerjaan orang tua sebagai pembuat batu-bata merah.  Setelah ayahnya Amari meninggal dunia, Khaerun dan adiknya Rubiati (22) menjadi tulang punggung keluarga. Dirinya membantu orang tua membuat batu-bata merah di ladang sedangkan adiknya, Rubiati bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura.

Dalam kotak
Kasus kanibal ala Sumanto ini terungkap setelah ditemukan mayat korbannya yang dikenali sebagai Fahmi Iswandi Sodikin, yang tidak lain adalah rekannya, yang tinggal serumah, Rabu (3/3) pekan lalu.

Mayat Fahmi ditemukan dalam kotak tripleks dengan posisi telungkup. Setelah polisi melakukan penyelidikan akhirnya ditetapkan Khaerun alias Harun sebagai tersangka pembunuhnya.Tersangka sebenarnya membunuh rekannya itu tiga bulan lalu.Selama ini, dia menyimpan mayat tersebut untuk dimakan bagian demi bagian tubuhnya setiap hari.

Untuk itu, dia mengawetkan mayat tersebut sehingga tidak berbau. Yang pertama dia makan adalah jantungnya secara mentah- mentah. Kemudian organ tubuhnya yang lain dengan cara dimasak terlebih dulu dengan bumbu dapur atau dipanggang.Setiap malam Jumat, tersangka memakan daging tubuh korban, yang diketahui berasal dari Desa Pagerbarang RT 1 RW III Kecamatan Pagerbarang Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Tersangka nekat membunuh dan memakan tubuh korban karena korban dikenal memiliki ilmu hitam. Dengan memakan tubuh korban yang disebut-sebut memiliki ilmu kebal itu, maka ilmu tersebut akan berpindah ke dirinya. Sebelumnya, tersangka diduga membakar tubuh korban sebelum memakannya karena terdapat tanda-tanda pembakaran di tubuhnya yang mulai mengering.

Diduga tersangka menghabisi korban dengan benda tumpul yang dipukulkan di kepala bagian belakang karena terdapat tanda retak pada tengkorak. Tersangka sendiri mengaku memukul kepala korban dengan sebuah martil besi berukuran sedang. Selain memakan organ tubuh korban, pelaku juga mencabut dua gigi seri atas. Dua gigi seri ini dilubangi oleh pelaku dan dijadikan mainan kalung. Menurut pelaku, kedua gigi seri itu tidak dipakai setiap hari, hanya saat akan melakukan ritual. Bagi pelaku, gigi korban juga dijadikan jimat.

Kapolwiltabes Semarang, Kombes Edward Syah Pernong meminta ibu korban tidak panik dan menjalankan pekerjaanya seperti biasa. "Ibu tidak perlu khawatir bekerjalah seperti biasa," ujar Kapolwil.

Kapolwil enggan memberi keterangan lebih lanjut kasus ini."Yang berhak memberi keterangan Pak Kapolda, karena masalah ini melibatkan antarprovinsi," ujar Kapolwil. Mar-yan

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan