Halaman Utama arrow Kedu Yogya arrow Rambut dilarung agar sampai ke Nyi Rara Kidul
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Rambut dilarung agar sampai ke Nyi Rara Kidul
Saturday, 24 July 2010

Rambut dilarung agar sampai ke Nyi Rara Kidul 

RAMBUT gimbal atau rambut gembel yang melekat pada anak-anak di kawasan Dieng, Wonosobo maupun Getasan, Kabuaten Semarang dianggap sakral. Proses pemotongan rambut ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan, harus dilakukan secara istimewa. Bahkan sebelum dipotong, orang tua atau pemilik hajatan harus menuruti permintaan sang anak dan wajib dipenuhi. Apabila tidak, dipercaya bisa memunculkan balak.

Sedangkan proses penyucian anak sebelum dipotong menggunakan air suci maerakaca yang dipercaya sebagai tetesan sumber Sungai Serayu merupakan bagian penting dalam mengembalikan rambut gimbal kepada sang pemilik, yakni Nyai Ratu Kidul (Ratu Selatan) yang dititipkan melalui Kolodete.

Untuk mengadakan upacara ruwatan ini juga memerlukan persiapan khusus, seperti tempat upacara dan benda-benda sesaji. Bahkan tenda upacaranya dilakukan di tempat yang dinilai suci juga. Waktu upacara itu sendiri dilakukan berdasarkan weton (hari kelahiran sang anak), sedangkan pelaksanaan upacara dihitung berdasarkan neptu (nilai kelahiran anak yang akan diruwat).

”Kalau di Dieng upacara biasanya dilakukan di Gua Semar atau Gua Sumur yang terletak satu kompleks atau di kawasan Candi Dieng. Sedangkan di Kepil dilaksanakan di Gua Nyi Simpen,” kata tokoh spiritual asal Desa Ondowelan, Kecamatan Kepil, Mbah Suharlan.

Permintaan
Dalam upacara harus dilengkapi dengan sesaji yang meliputi tumpeng, ingkung ayam, gunting, mangkuk dan air berisi bunga setaman, beras, dua buah uang, payung dan permintaan anak yang diruwat. Sebab jika permintaan anak tidak dipenuhi, maka rambut anak akan kembali gimbal, bahkan ada yang menjadi gila.

Permintaan disampaikan sesaat sebelum upacara dilakukan dan harus dipenuhi saat itu juga. Permintaan anak biasanya bermacam, ada yang meminta uang, ada yang minta baju, ada yang minta tahu bahkan ada pula yang meminta kambing etawa.

”Pada upacara yang dilangsungkan di Gua Nyi Simpen kemarin, ada yang meminta 100 tahu, baju, mobil mainan, uang dan bahkan sampai ada yang meminta kambing etawa. Saat anak meminta tersebut tanpa ada tekanan dari orang tuanya, jadi sifatnya spontan,” ujarnya.

Pemimpin spiritual Dieng, Mbah Rusmanto mengungkapkan, jika orang tua tidak mampu memenuhi permintaan sang anak, maka bisa dibantu sama orang lain. Namun jika belum ada yang membantu bisa menunggu hingga orang tuanya mampu. ”Ini memang berat, tapi tetap harus dilakukan. Karena jika tidak kasihan anaknya nanti akan terus sakit-sakitan," katanya.

Salah satu anak berambut gembel asal Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Muhammad Alfarizi Masaid (8) mengaku belum bersedia diruwat. Selain itu, ayah Rizi, Ahmad Said (32), mengaku belum sanggup menggelar ruwatan bagi anaknya karena permintaan Rizi sangat berat. Sebab Rizi minta ditanggapkan pergelaran Reog Ponorogo dan Barongsai. "Kami belum sanggup untuk itu karena biayanya tentu sangat mahal," katanya.

Ratu Kidul
Mengenai pengalaman yang pernah dijumpai, ibunda Rizi, Sri Rejeki (29) mengaku pernah berjumpa dengan seseorang yang mencela anaknya yang berambut gimbal pari. "Pernah ada orang yang tanya, "bu anaknya tak pernah dimandikan ya?" Saat mendengar itu, perasaan saya sangat sedih," katanya.

Menurut Mbah Rus, anakanak berambut gembel ini adalah anak bajang titipan Ratu Kidul (Ratu Laut Selatan), maka hasil cukuran rambutnya juga harus dilarung pada sungai yang mengalir hingga ke laut selatan. Larung dilakukan, sebagai upaya untuk menyambungkan anak dengan yang menitisinya. Hal itu supaya perjalanan hidup anak tersebut berjalan lancar dan ada tali komunikasi batin dengan penguasa Laut Kidul dan Kiai Kolodite.

Setelah dipotong, rambut sang anak dihanyutkan pada aliran sungai yang bisa bermuara ke laut selatan. Untuk Wonosobo bisa dihanyutkan di mana saja yang penting bisa hanyut melalui Sungai Serayu atau pun Sungai Bogowonto yang bermuara ke laut selatan.

Masih banyak mitos lainnya seperti anak rambut gimbal merupakan kesayangan Nyi Rara Kidul. Sedangkan lainnya menyebutkan bahwa anak rambut gembel merupakan anak titisan Keling yang menjadi anak kesayangan "dayang" yang menghuni kawasan Dieng.

Daya tarik
Anak berambut gimbal atau akrab dengan sebutan bajang di lereng Gunung Merbabu tepatnya Dusun Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, menjadi daya tarik wisata, baik lokal maupun mancanegara, yang sekadar mampir. Anak-anak gimbal di desa ini, memang tidak satu dua tapi cukup banyak.

Kebiasaan menjaga rambut untuk tidak memotongnya dalam kurun waktu tertentu serta umur yang telah matang diyakini warga setempat akan diwarnai balak bagi si anak itu sendiri. Percaya tidak percaya, tapi itulah yang terjadi. Seperti dialami pasangan suami istri Gepeng (51), salah satu tokoh masyarakat setempat.

Ia menceritakan, saat kecil Gepeng dan istrinya juga berambut gimbal, yang kemudian diwarisi anaknya. Tak hanya itu, Gepeng menuturkan, setelah dipotong dengan menggelar ritual pertumbuhan rambut anak bajang pun menjadi normal. Namun, diakui Gepeng pemotongan rambut gimbal di daerah mereka tidak asal potong.

Melain melalui sebuah tradisi yang disebut "Gombakan", konon merupakan sebuah tradisi ada sejak zaman Kiai Tekel, yakni tokoh menjadi cikal bakal Dusun Tekelan. Meski sudah mulai menipis, gombakan sama sekali belum terkikis karena masih selalu dilestarikan. Diungkapkan Supriyono, arti sebuah gombakan merupakan satu perlambang, bahwa si anak kelak memiliki kehidupan baru dan dengan hati yang mantap meniti trap tersebut.

"Biasanya diiringi dengan doa pengharapan teguh, rahayu, slamet," tuturnya. Si anak yang akan dipotong rambutnya, didudukkan di depan sesaji. Si anak akan berhadap-hadapan dengan seorang "dukun". Berbagai di lontarkan oleh sang dukun. Upacara itu diakhiri dengan menyebar sawur berisi bunga ke arah si anak dan dilindungi payung dan keranjang. habis/Asma Khosin/Ernawaty/h

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan