Halaman Utama arrow OPINI arrow Refleksi Pekan ASI sedunia
Cari Arsip Berita
Menu Wawasan
Halaman Utama
Nasional
Olah Raga
Internasional
Ilmu Pengetahuan
Semarangan
Demak-Grobogan
Kendal
Salatiga
Ungaran-Ambarawa
Magelangan
Kedu Yogya
Radius Solo
Banyumasan
Pesisir Timur
Pesisir Barat
Gebyar
OPINI
Refleksi Pekan ASI sedunia
Thursday, 26 July 2007

Refleksi Pekan ASI sedunia

ImageSESIBUK dan setinggi apa pun karier seorang ibu, ia memiliki tugas melekat memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada anak-anaknya. Karena itu adalah hal yang logis jika mereka berusaha agar ASI tetap lancar. Lebih dari itu, ASI adalah karunia Tuhan yang sangat besar untuk diberikan kepada anak, mudah dicerna, siap pakai setiap saat, aman dari kuman, tidak basi, serta tersedia dalam suhu optimal sesuai kebutuhan bayi. Di samping itu ASI merupakan dasar hidup sehat dan makanan terbaik di awal kehidupan seorang anak. Sekaligus hak yang mendasar bagi anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, demi kepentingan kesehatan dan kualitas kehidupan masa depannya.

Bagaimana tidak? Karena menurut ahli kesehatan, ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi. Kandungan tersebut antara lain 87 persen air, 700 kalori/lt, 1,2 persen protein, 3,8 persen lemak, dan 7,0 persen laktosa, serta beberapa jenis vitamin, mineral, dan gizi yang sesuai kebutuhan bayi.

ASI juga mengandung berbagai zat kekebalan, seperti imunoglobulin, lisosim, faktor bifiduz, dan zat-zat lain yang memberikan kekebalan pasif terhadap beberapa penyakit tertentu, serta berguna untuk menekan pertumbuhan bakteri usus. Beberapa penelitian juga menunjukkan, bahwa ASI dapat mengurangi risiko kesukaran seperti gangguan pernapasan seperti batuk, pilek, dan pnemonia, gangguan pencernaan, dll.

Lebih dari itu juga mengandung zat-zat yang diperlukan untuk perkembangan kecerdasan otak. Demikian pula bagi ibu yang menyusui, pemberian ASI memiliki banyak manfaat, khususnya yang berkaitan dengan pemulihan kesehatan. Antara lain mencegah pendarahan setelah melahirkan, sehingga mengurangi kemungkinan anemia, menjarangkan/ menunda kehamilan, serta mengurangi risiko terkena kanker rahim dan kanker payudara.

Pemberian ASI juga dapat mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan anak, serta menimbulkan rasa aman dan kedekatan emosional yang kuat. Dalam dekapan ibu, bayi akan merasakan kehangatan dan perlindungan. Begitu pula sebaliknya, ibu menyusui akan merasakan puas dan bahagia, karena dapat memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Sesungguhnya apabila dalam menyusui dihayati, akan menumbuhkan kebahagiaan yang terwujud dalam bentuk kasih sayang murni.

Sentuhan kulit, detak jantung ibu yang telah lama dikenal bayi, akan meningkatkan kemesraan. Berpadunya unsur fisik dan psikis antara ibu dan anak tersebut, semakin memperkuat ikatan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Dalam kaitan ini, Sigmund Freud, tokoh terapi psikoanalitik menyatakan, bahwa menghisap buah dada ibu (menyusu) dalam tahun pertama kehidupan, yang disebut fase oral, memuaskan kebutuhan bayi akan makanan dan kesenangannya.

Dampak psikologisnya, menimbulkan rasa sayang, nyaman, percaya dan berani menjangkau orang lain, sehingga menumbuhkan kemampuan membangun dan memelihara hubungan yang akrab. Semua itu berdayaguna sebagai dasar perkembangan emosi anak di kemudian hari.

Sebaliknya, kerakusan dan keserakahan bisa berkembang sebagai akibat kurang memperoleh makanan dan cinta pada tahun-tahun awal kehidupan. Ini karena tugas perkembangan pertama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, percaya kepada orang lain, dunia, dan kepada diri sendiri. Dan cinta adalah perlindungan terbaik dari ketakutan, dan ketidakamanan.

Itu mengandung makna, betapa ASI turut serta berpengaruh terhadap kepribadian anak-anak. Bahkan RA Kartini, tokoh emansipasi wanita pun menyebutkan, bahwa kejahatan dan kebaikan manusia terberikan melalui air susu ibu (Nota Kartini untuk Rooseboom dalam Sulastin, 1977:388).

Selain itu, dari sisi ekonomi pun menyusui banyak manfaatnya. Secara ekonomis, jelas lebih murah karena tidak perlu membeli susu formula, botol, dan perlengkapannya, sehingga mengurangi biaya pengeluaran belanja dan menghemat. Terlebih ASI dapat mencegah infeksi, sehingga mengurangi pengeluaran biaya untuk bayi sakit. Di samping itu juga ramah lingkungan karena tidak menimbulkan sampah sisa kaleng atau dos susu. Pun, praktis karena tidak perlu repot mencuci botol dan dot.

Bagi negara, pemberian ASI mendukung terwujudnya SDM yang berkualitas, mengurangi sampah, menekan angka kesakitan dan kematian bayi, serta meningkatkan ekonomi keluarga. Ironisnya, kenyataan menunjukkan masih adanya sebagian kaum ibu yang enggan memberikan ASI kepada putra-putrinya, seperti menunda menyusui, membatasi dan memberikan makanan/minuman lain sebelum bayi berusia enam bulan. Alasannya antara lain, tidak mau repot, tidak yakin kalau dapat menyusui, kurang percaya diri bahwa ASI cukup untuk bayinya, takut jika bentuk tubuh utamanya payudara berubah sehingga kelangsingan tubuh dan kemolekannya menjadi berkurang, ibu kembali bekerja setelah cuti, gencarnya promosi susu formula, dll.

Belum lagi adanya perilaku menyusui yang kurang mendukung, misalnya membuang kolostrum karena dianggap tidak bersih, dsb. Kesetiaan suami di sinilah perlunya dukungan dari keluarga dalam membantu menyelesaikan masalah pemberian ASI. Suami dalam hal ini memiliki peran yang besar, khususnya dalam memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang kepada istri yang menyusui.

Ini karena hampir semua ibu dapat menyusui bila dibantu dengan menumbuhkan rasa percaya diri, serta teknik menyusui yang benar. Perhatian tersebut di antaranya melalui pemberian motivasi kepada istri agar mau menyusui bayinya, serta jangan mengkhawatirkan perubahan bentuk mamae.

Kesetiaan untuk tidak akan mengurangi cinta dan tidak akan berpaling meski bentuk tubuh mengalami perubahan, adalah dukungan yang sangat diperlukan bagi istri. Dukungan lainnya yaitu saat ibu harus menyusui pada malam hari dalam kondisi mengantuk, terlebih saat bayi dalam keadaan rewel.

Untuk itulah, peningkatan pemberian ASI harus terus digalakkan. Mendukung Deklarasi Innocenti 1990 (Italia) tentang perlindungan, promosi dan dukungan terhadap pemberian ASI, antara lain melalui Pekan ASI sedunia, yang berlangsung dari tanggal 1 Agustus. Mendukung hal tersebut adalah Pencanangan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian (PP)-ASI oleh Presiden RI pada Peringatan Hari Ibu ke-62 tahun 1990. Yaitu gerakan yang dilaksanakan secara lintas sektor dan terpadu dengan melibatkan peran serta masyarakat.

Sedangkan asas yang dikembangkan adalah desentralisasi dengan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat dan keluarga untuk mendukung kepercayaan ibu hamil dan menyusui dalam melaksanakan tugas sesuai kodratnya.

Fokusnya adalah dalam upaya membudayakan perilaku menyusui secara eksklusif kepada bayi sampai berumur enam bulan dan dilaksanakan secara bertahap serta berkesinambungan. Ditindaklanjuti dengan Gerakan Rumah Sakit dan Puskesmas Sayang Bayi.

Kemudian tahun 1993 ditindaklanjuti dengan Workshop Nasional PPASI 1993 mengenai Strategi Nasional PP ASI dan tujuh Pokok Program ASI. Adapun strategi yang ditetapkan antara lain mengembangkan dan menerapkan legalisasi yang mendukung dan melindungi perilaku PP ASI, meningkatkan kepedulian para pengambil keputusan, tokoh agama, kelompok potensial, para pengusaha serta masyarakat luas dan keluarga tentang pentingnya ASI, membuat Standar Pelayanan Minimal (SPM), Peningkatan Pemberian ASI (PPASI) sebagai pedoman pemerintah pusat dan daerah, serta mengupayakan agar semua petugas dan sarana kesehatan mendukung perilaku menyusui yang optimal. hf

 
© 2010 WawasanDigital
IT Koran Sore Wawasan